HatiYangTerlewatkan.Com
Browse »Home » , » Surat untuk "Kamu"

Surat untuk "Kamu"


Dear Devil...
Bagaimana kabarmu kawan..??
maaf kalau panggilan itu kasar buat kamu,tapi sepertinya panggilan itu sangat cocok buat kamu yang telah membuat remuk hatiku.. D  semoga kau baik2 saja  ya..
Selalu berharap kau dalam keadaan baik2 saja,walaupun aku sangat membenci mu,tapi jauh dilubuk hatiku aku amat sangat peduli padamu,entah kau menyadarinya atau tidak...
Tau enggak gimana perasaanku saat aku tahu kalau hatimu ternyata bukan untuk diriku..??Rasanya kayak terjebur ke dalam jurang yang dimana  gak ada dasarnya sama sekali,disana gelap dan aku sendiri..Ya,,,Sendiri..!!!
Itu kata yang pantas buat aku saat ini..
Malang ya nasibku,tapi itu yang buat aku mengerti apa makna dari CINTA..
Sebuah kata yang selama ini  aku tak tahu artinya,walaupun aku sudah berganti-ganti pacar,aku tak tahu apa arti dan makna CINTA..
Tapi saat aku bertemu dengan kamu aku baru tau apa itu CINTA,sebuah kata yang ajaib yang bisa buat kita senang karenanya,tapi bisa juga buat kita sedih..
Saat aku sendiri rasanya dunia telah berakhir..
Putus asa mendera,sakit hati yang tak mungkin dapat terobati..
Hatiku ibarat tembok,bilapun ada paku yang menancap,walaupun paku tersebut telah tercabut pasti masih meninggalkan bekas dari tancapan paku tersebut..
Saat aku sendiri aku merasa kehilangan senyumku,Senyum yang selama ini merekah di bibirku..
Saat aku sendiri aku merasa kehingan semangatku,Semangat yang selalu membara2,semangat yang seakan2 tak akan pernah padam..
Tapi sekarang semangat itu hanya menjadi kenangan..
Saat aku sendiri aku berharap malaikat izrail mengahampiriku,mencabut nyawaku yang tak berarti ini,ingin rasanya beliau mengambilnya..
Saat aku sendiri aku merasa orang paling tak berguna di dunia ini,menjadi orang yang berperasaan lagi,tak bisa lagi merasakan suka dan duka,tak tahu lagi apa itu bahagia dan kapan terakhir kalinya aku bahagia,aku pun tak dapat mengingatnya...
Puaskah engkau sekarang..??
Setelah mengambil semuanya dariku,bahkan tak bersisa satu pun..
Menangis hanyalah yang aku bisa perbuat sekarang,bahkan aku rasa tangisku ini tak akan berakhir sampai kapan pun,akankah kau menangis seperti ku...??
Sekarang semua hanya kenangan belaka,kenangan yang tak akan bisa aku lupakan,kenangan yang selalu melekat di lubuk hatiku,kenangan pahit di hidupku..
Kau boleh mengambil semuanya dari ku . kau boleh sakiti aku , kau boleh menghiyanati aku , kau boleh siksa aku,kau boleh lakukan semuanya padaku,tapi aku hanya meminta 1 hal darimu,hanya satu dan tak lebih..
Aku hanya minta “Bisakah kau kembalikan senyumku,bisakah kau lakukan itu..??”
Sudah lama aku tak melakukan hal itu mungkin menurutmu sepele,tapi itu sangat berarti bagiku,amat berarti..
Aku ingin seperti orang2 lain,tersenyum lepas seakan2 tak ada beban hidup..
Selama ini aku memang tersenyum,tapi senyumku itu hanya senyum semu,aku tak ingin orang lain prihatin dengan keadaanku saat ini..
Seandainya saja aku tak bertemu dengan dirimu,tak jatuh cinta padamu,tak berharap bisa selalu bersamamu..
Seandainya saja aku tak berharap itu semua,aku baru sadar kalau diriku selama ini hanya berharap pada bayangan semu yang tak akan pernah ku miliki sampai kapan pun..
Aku tak akan bisa melawan bayangan semu,sampai nafas terakhir pun aku tak akan bisa  bayangan dia telah melekat di batinmu . tak akan bisa aku menghapusnya .
Sudahlah,biarkan kenangan itu menghilang dengan berlalunya waktu..
Bukan waktu yang salah karena  telah mempertemukan di waktu yang tidak tepat,ini semua telah takdir dari Allah SWT,mungkin menurut Allah  aku bisa melewati cobaan ini,cobaan yang amat berat bagiku..
Aku yakin Allah tak akan pernah memberi cobaan ke hambanya melewati batas kemampuannya,dan Allah yakin aku bisa..
Aku tak akan marah padamu atas apa yang telah kau lakukan padaku,memaafkan semuanya dan mengiklaskan adalah perbuatan yang pantas untuk kita sekarang..
Surabaya, 11 Januari 2012        
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Post a Comment

 
This Blog Created by hatiyangterlewatkan.com » Modify by Afza Nurriza